Senin, 12 September 2011

Hadirkan (Kembali) Ramadan di Hari-harimu

Beberapa hari setelah Ramadan berlalu, kita sering membaca kiriman dari teman-teman di jejaring sosial tentang kesedihan mereka karena Ramadan berlalu. Ya! Orang beriman mana yang tidak sedih ditinggalkan Ramadan? Satu bulan mulia yang ternyata berlalu dengan cepat dari hadapan kita.
Di tengah kesedihan kita tersebut, bukan berarti setelah Ramadan berlalu kita secara keseluruhan melepaskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan hanya menyisakan kesedihan karena ditinggalkan Ramadan. Kalau selama ini kita sering menantikan kehadiran bulan Ramadan di keseharian, mengapa tidak kita sendiri yang 'menjemput'-nya?
'Menjemput' bulan Ramadan? Kenapa tidak?
Tentunya yang saya maksud bukanlah bulan Hijriyah Ramadan, melainkan menjemput dan memelihara nilai-nilai yang terkandung paada bulan tersebut.
Beberapa alasan yang menyebabkan kita berharap segera datangnya Ramadan adalah karena banyaknya amalan yang bisa kita lakukan di dalamnya dan pahala dari amalan tersebut akan dilipatgandakan. Jika kita lihat dari segi jumlah, hanya sedikit amalan Ramadan yang hanya bisa kita lakukan pada bulan tersebut dan tidak bisa kita lakukan pada bulan lain, yaitu: puasa wajib, salat tarawih, membayar zakat fitrah dan iktikaf pada 10 malam terakhir.
Sisanya: Qiyamul Lail (tahajud dan witir), tilawah Quran, bersedekah, membiasakan salat rawatib, senyum kepada orang lain, menjaga pandangan, menjaga lidah dari ghibah, memperbanyak berbuat kebaikan dan lain-lain, bukankah amalan-amalan tersebut bisa kita lakukan sepanjang waktu?
Oleh karena itu, mari kita 'jemput' sendiri amalan-amalan yang dulu sering kita lakukan pada bulan Ramadan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa  amalan-amalan tersebut hanya sanggup dilakukan saat Ramadan.
Sementara jika Ramadan berakhir, kita tidak mau lagi melaksanakannya. Bahkan amalan-amalan tersebut mestinya lebih meningkat saat Ramadhan telah berlalu, baik secara kualitas maupun kuantitas, karena jika demikian, kita telah berhasil menjadikan Ramadan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) bagi kita semua.
Kalau saat Ramadan kita bisa giat beribadah, mengapa sekarang tidak? Bukankah urusan pahala adalah haknya Allah? Tugas kita hanyalah ikhtiar dan mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah dan disertai dengan do'a tentunya. Wallahua'lam.

Sumber: Republika/Muhammad Hidayat

0 komentar:

Poskan Komentar