Senin, 04 Juli 2011

Arsitektur Masjid Ibnu Tulun, Mesir


" Walau bagaimanapun, kenanggan terhadap kampung halaman akan terbawa hingga sejauh kaki melangkah. Itu pula yang terjadi terhadap Jenderal Ahmad Ibnu Tulun, salah satu jenderal pada Dinasti Abbasiyah—yang diberi mandat untuk menjadi administratur wilayah Mesir yang berkedudukan di Kairo ".


Kenangannya sebagai pemuda yang memperoleh pendidikan militer di Samarra (salah satu kota di Iraq) dan kerap beraktifitas di Masjid Samarra membuatnya selalu teringat dengan bentuk rancang bangun masjid itu. Apalagi, bentuk masjid-masjid di Samarra memang mempunyai tipe yang hampir sama: berbentuk hypostyle yang luas dan dibangun dengan menggunakan bata merah sebagai ciri khas dan tradisi bangunan bangsa Mesopotamia. Dan, Masjid Agung Samarra merupakan kebanggaan pemerintah Abbasiyah, induk semang Jenderal Ahmad ibnu Tulun.

Ketika Ibnu Tulun—begitu namanya biasa ditulis dalam tarikh-tarikh Islam—memerintah Mesir dari istananya di al- Qatai, ia pun kemudian memutuskan untuk membangun sebuah masjid yang bentuk dan bahannya mengikuti tradisi bangunan masjid di Samarra: seperti Masjid Agung Samarra, (dibangun tahun 848) dan Masjid Abu Dulaf (dibangun tahun 859), yang keduanya dibangun oleh Khalifah al-Mutawakkil, dari Bani Abbasiyah.

" Sudah menjadi tradisi penguasa Islam untuk mendirikan masjid agung sebagaisimbol kekhilafahan Islam yang menguasai suatu daerah. Apalagi, pada saat itu, Mesir belum memiliki masjid berdimensi dan berukuran selayaknya sebuah masjid agung "



Masjid Ibnu Tulun dibangun selama tiga tahun (876-879 masehi). Penamaan masjid ini mengambil nama besar pendirinya. Hanya saja, walaupun dibangun di Mesir dan dikerjakan oleh tenaga-tenaga kerja yang sebagian besar adalah bangsa Mesir, plus sekelompok tenaga ahli dari Iraq, tapi Masjid Ibnu Tulun kurang dianggap sebagai hasil inovasi orang Mesir. Mengapa? Mungkin karena dominasi warna dan nuansa Mesopotamia yang dikehendaki oleh Jenderal Ahmad Ibnu Tulun sangat kental dalam rancang bangunnya.
Bahkan, menara spiral yang di Masjid Agung Samarra dan Masjid Abu Dulaf menjadi salah satu elemen khas pun diadopsi menjadi salah satu elemen pada Masjid Ibnu Tulun, yang merupakan bangunan Islam terbesar di daerah lembah Nil.

                                                              Menara Masjid Ibnu Tulun 
                                                                Bandingkan dengan ini :


Bahkan, material utamanya pun menggunakan bata merah. Justru Masjid al-Azhar yang sedikit banyak mengambil disain Masjid Ibnu Tulun kemudian menjadi masterpiece bangunan Islam yang begitu diagungkan sebagai karya umat Islam bangsa Mesir.
Struktur Bangunan Masjid
Masjid Ibnu Tulun mempunyai bentuk dasar yang hampir sama dengan masjid-masjid monumental lain seperti Masjid Agung Damaskus, Masjid Nabawi dan juga Masjid al-Azhar: mempunyai pelataran persegi empat yang dikelilingi dinding-dinding berserambi bertiang berbaris. Begitupula pada dinding luar masjid yang dibentuk dengan menempatkan sederetan portico padanya.




Setiap sisi dinding paling luar—yang mengelilingi area seluas 2,6 hektare— masing-masing mempunyai panjang 162 meter. Sehingga ukuran kompleks masjid ini adalah 162 kali 162 meter. Sedangkan masjidnya sendiri hanya berukuran 140 kali 116 meter. Itu sudah meliputi pelataran masjid yang berukuran 90 kali 90 meter yang berada di tengah-tengah masjid. Dengan ukuran sebesar itu maka luas Masjid Ibnu Tulun secara keseluruhan sekelas dengan Masjid Agung Damaskus yang dibangun oleh Dinasti Umayyah
Ada lagi kekhasan Masjid Ibnu Tulun ini, yakni sebuah bangunan berkubah yang terletak di tengah-tengah pelataran yang berfungsi sebagai pancuran air untuk mengambil air wudlu. Hal ini juga ditemui pada pelataran Masjid Agung Damaskus, hanya saja pada masjid kebanggan Bani Umayyah tersebut tidak menggunakan bangunan berkubah untuk menaungi pancuran airnya.


                                                 bangunan berkubah di tengah pelataran

                                          zoom in bangunan berkubah di tengah pelataran

Bangunan ini, dibangun pada tahun 1296 ketika Dinasti Mamluk berkuasa. Uniknya, jika penguasa Mamluk mengganti material bata lempung dengan batu untuk merestorasi menara spiral tetapi mereka justru membangun bangunan berkubah di tengah pelataran masjid.
Sementara itu, pada ruang shalat utama masjid, yang langsung berhadapan dengan mihrab, terdapat lima baris pilar yang membentuk kendali ruangan. Maka, terdapat lima baris ruang yang terbentuk di antara pilar-pilar tersebut secara pararel terhadap mihrab mulai dari batas garis shaf terdepan. Barisan tiang yang berpararel lima tersebut mengakomodir seramai 80 tiang-tiang kolom yang melintang satu sama lain dan menopang lengkungan-lengkungan yang identik satu sama lain.
Puncak lengkungan-lengkungan yang ringan dan berpola seperti lengkungan tapal kuda itu terdapat pada suatu titik di ketinggian 8,1 meter dari lantai masjid. Kemudian, di sepanjang sisi-sisi pelataran masjid (pada bagian luar masjid) portico-portico tersebut secara reguler membentuk irama tersendiri: sambung menyambung tanpa terputus di sepanjang sisi-sisi pelataran masjid dengan memanfaatkan lebih dari 80 pilar. Memang agak kaku dan monoton terlihatnya.
Oleh karena itu, untuk menghindari kesan monoton, perencana masjid ini meletakkan tiang-tiang kolom kecil yang melekat pada setiap sudut pertemuan antara dua sisi pelataran. Lagi-lagi, hal ini, ternyata juga terdapat pada bangunan-bangunan masjid di Samarra.
Masjid Ibnu Tulun merupakan salah satu masterpiece bangunan muslim di masanya. Arsitektur masjid ini juga sangat membantu kita untuk membayangkan kehadiran masjid agung yang ada di Samarra pada Masjid Ibnu Tulun. Maklum Masjid Agung Samarra saat ini hanya berupa sisa-sisa reruntuhan saja sehingga menyulitkan kita untuk memperoleh gambaran yang akurat tentang bentuk bangunan masjid agung itu sesungguhnya. Hanya menara spiralnya saja yang masih utuh dan kokoh berdiri hingga kini.



Sebagai sebuah bangunan besar, Masjid Ibnu Tulun sangat memperhatikan keseimbangan antara panjang dan lebar elemen-elemen dasar pembentuk masjid sehingga tampak proporsional: antara keliling dinding paling luar, lebar bangunan dalam masjid dan keliling dinding dalam yang membentuk pelataran.
Kemudian menara spiral sebagai bagian yang terpisah, merupakan satu-satunya elemen vertikal pada bangunan bersudut empat tersebut, juga menjadi unsur pembentuk keseimbangan itu. Menara itu tadinya—sebelum mengalami renovasi—adalah sebuah kupola yang juga terbuat dari bata merah yang muncul dari bagian atas atap mihrab. Ini merupakan suatu inovasi, dan datang dari gaya yang ada pada masjid agung di Samarra.
Unsur lain yang juga membuat struktur masjid menjadi terlihat proporsional adalah pola arcade yang disusun secara pararel. Model pararel ini lebih dipilih daripada model yang tegak lurus terhadap arah kiblat.
Namun sayangnya, penggunaan pilar-pilar yang lebar itu seolah menjadi garis-garis pembatas terhadap pandangan ke arah mihrab sehingga menghasilkan beberapa penampilan yang kaku. Namun demikian, kekakuan tersebut masih bisa diimbangi dengan motif-motif yang menghiasi bagian atas masjid yang berdekatan dengan lengkungan-lengkungan masjid. Begitu pula, motif traseri geometris yang terdapat pada bagian depan jendela-jendela yang ukurannya tinggi itu. Melihat kualitas motif-motif tersebut sepertinya itu dibuat oleh para tukang kayu yang sangat berpengalaman. Bahkan, mungkin saja tak hanya sekadar tukang kayu biasa melainkan para pengrajin ukiran kayu pilihan.
Sebagai tambahan, pada pinggiran teras yang mengelilingi ruang utama shalat dan juga portico di sekeliling pelataran masjid, dibuatkan langkan dengan lubang-lubang kecil sebagai hasil karya kerajinan batu yang sangat elegan.
Renovasi
Masjid Ibnu Tulun sebenarnya memiliki menara spiral yang juga terbuat dari bata merah. Bentuk menara spiral ini sebenarnya merupakan tradisi bangunan masjid di Samarra. Namun, kini keaslian menara tersebut sudah tak tampak lagi karena pada saat masjid ini telah berusia 400 tahun, menara tersebut mengalami renovasi berbarengan dengan pembuatan saluran air yang menuju pancuran di tengah-tengah pelataran masjid. Menara itu kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu sebagai material utamanya.
Menurut beberapa literatur, renovasi tersebut kemungkinan dilakukan pada saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir. Selain renovasi yang dilakukan oleh penguasa Dinasti Mamalik tersebut, pada tahun 1877 juga dilakukan restorasi terhadap barisan arcade yang terdapat pada ruang shalat utama. Namun, restorasi tersebut tak merubah struktur dan bahan bangunan sehingga keasliannya menjadi luntur. Hanya saja, restorasi tersebut menghajatkan waktu yang cukup lama antara perencanaan dan pelaksanaannya. Bayangkan, sejak direncanakan pada tahun 1877, restorasi tersebut baru bisa dilaksanakan pada tahun 1929.
Resonansi
Inilah profil salah satu masjid bersejarah yang sampai hari ini masih berdiri kokoh di Mesir. Walaupun bangsa Mesir, kurang begitu mengakuinya sebagai bangunan khas Mesir lantaran terlalu banyak unsur-unsur kebudayaan Mesopotamia yang diterapkan oleh Ibnu Tulun tetapi toh mereka juga menerapkannya di Masjid Al-Azhar yang dibangun kemudian.
Hal ini mengingatkan kita pada sejarah pembuatan bangunan-bangunan monumental seperti Kubah al-Sakhra dan Masjid Agung Damaskus yang menerapkan pola dan corak Byzantium ke dalam elemen-elemen arsitektur kedua bangunan tersebut. Ini membuktikan bahwa arsitektur bersifat universal. Bahkan jika perlu dia bisa menjadi simbol persatuan.




0 komentar:

Poskan Komentar